Rabu, 16 November 2016

GEMPAR MUDA INDONESIA

MENGENAL LSM
LSM UNTUK MENGATASI MASALAH MASYARAKAT


Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tumbuh karena pemerintah tidak bisa mengatasi seluruh persoalan di masyarakat. Seringkali LSM justru menunjukkan kinerja lebih baik dalam menggali sumber daya yang ada di masyarakat, mengoptimalkan kapasitasnya dan memanfaatkannya untuk pelaksanaan ide dan tujuan LSM itu sendiri, yaitu mengoptimalkan sumber daya masyarakat. LSM juga memegang peranan penting dalam pendekatan dan pelayanan publik,korektor pemerintah, serta kontrol masyarakat dalam penyelenggaraan negara, LSM anti korupsi sebagai contohnya.
LSM dapat muncul karena beberapa hal, misalnya saja keadaan pemerintahan yang diktator, kemiskinan, ataupun ide pengenalan sistem baru seperti Sekolah Alternatif.


Kondisi LSM di Indonesia


Menitik keberadaannya, LSM bisa dibagi menjadi beberapa generasi, generasi pembaruan pertama adalah yayasan pendidikan Taman Siswa yang didirikan untuk menandingi keberadaan metoda pendidikan pemerintah kolonial Belanda. Sekolah perempuan R.A Kartini menjadi generasi kedua yang dikhususkan untuk perempuan dalam membalik kekolotan pemikiran adat Jawa saat itu, di generasi selanjutnya ada LSM yang dimotori masyarakat umum.
Namun, dewasa ini banyak sekali LSM yang belum memahami prinsip-prinsip LSM itu sendiri, banyak yayasan yang sengaja dibuat pejabat pemerintah untuk kepentingan (mempertahankan) kekuasaannya, ada juga yang membuat LSM gadungan yang sekedar merebut proyek pemerintah seperti Kredit Usaha Tani (KUT), akibatnya KUT gagal dan terjadi banyak penyelewengan. Kemudian, apa saja toh prinsip-prinsip LSM yang baik?









PRINSIP-PRINSIP LSM


Non Partisan
LSM harus bebas dan bukan organisasi bawahan atau induk partai politik, meskipun ada partai politik yang mempunyai LSM seperti di AS - National Democratic Institure dari partai Demokrat atau IRI (International Republican Institute) dari partai Republik - maka kalau mereka meminta status nirlaba prinsip non partisan harus diikuti, mereka pun tidak boleh berkampanye untuk partai pilihannya. Ini sangat berbeda dari yayasan Muslim Pancasila di indonesia yang menginginkan status nirlaba (bebas pajak) meskipun mereka mendukung Golkar.


Non Sektarian
Dalam bekerja, LSM tidak boleh membeda-bedakan masyarakat berdasarkan agamanya, kalaupun ada LSM bentukan gereja atau organisasi agama lain, maka tetap tidak boleh mensyiarkan agamanya ataupun mendiskriminasikan masyarakat diluar agamanya. Kalau organisasi itu tetap mengadakan syiar agamanya, berarti itu bukan LSM, melainkan organisasi agama.


Non Violance (Menolak Kekerasan)
LSM tidak boleh mendukung kekerasan dan melaksanakan kegiatannya melalui jalan kekerasan, misalnya tidak ada metode pembangkangan sipil, seperti tidak membawa KTP (seperti kampanye Nelson Mandela di era 80-an sebelum ANC didirikan), mengikat diri di depan Gedung Putih, membakar bendera dan sebagainya.


Non Diskriminatif dan Non Rasis
Biasanya LSM mempunyai sasaran yang tertuang dalam tujuannya. Sasaran tersebut berisi tidak boleh ada anggota yang melakukan diskriminasi berdasar jenis kelamin, ras, suku, dan agama. Kalau pun ada yayasan yang mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak suku tertentu dalam hal bea siswa, tentunya LSM yang baik lebih mengedepankan minoritas, bukan rasis.








Transparansi (keterbukaan)
LSM harus transparan dalam pengelolaan keuangan maupun bidang lainnya seperti rekrutmen staf dan penggalangan dana. Mengenai hal seperti ini, hendaknya LSM selalu diaudit akuntan publik dan melaporkannya ke masyarakat luas. Masalahnya penyampaian hasil audit ke masyarakat luas kadang mengalami hambatan, alternatif saat ini, masyarakat itu dapat mendapatkannya dengan menjadi anggota dan penyebaran antar keluarga. Di AS kelalaian dalam manajemen keuangan dapat mengakibatkan pemimpin LSM masuk penjara.































KELEMAHAN LSM


Perlu diingat pula LSM di Indonesia juga masih memiliki beberapa kelemahan-kelemahan, adapun kelemahan utama tersebut adalah :
Ketergantungan Dana Terhadap Luar Negeri
LSM di Indonesia masih sangat tergantung dari bantuan luar negeri, baik yang bersifat formal (pemerintah, PBB) atau nonformal (LSM luar negeri). Penggalangan dana dari dalam negeri sendiri sulit dilakukan, karena masyarakat belum melihat LSM sebagai bentuk perjuangan yang perlu didukung. Sumbangan masyarakat lebih ditujukan kepada kegiatan keagamaan karena aspek religius dalam menyumbang lebih dikenal baik. (untuk tabungan akhirat).


Kemampuan manajemen LSM sangat lemah sehingga sulit dilakukan audit publik, hal ini tidak boleh terjadi walaupun tak ada penyelewengan dana, tetap harus ada profesionalisme manajemen keuangan yang nantinya melancarkan aktivitas LSM.

Mekanisme Pengawasan Internal LSM yang Masih Lemah
Mekanisme pengawasan internal LSM yang masih sering dimanipulasi sehingga tidak berjalan baik. Sehingga sulit pula untuk mengetahui apakah pengurus sudah melaksanakan kegiatannya sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan organisasi.


Keuntungan Pribadi
Sering sekali LSM melakukan kegiatan yang bersifat tersamar atau berkedok. Sebagai contoh, ada LSM yang hanya menginginkan bantuan dari luar negeri tanpa mengedepankan tujuan organisasi.

Pendek kata, bagi yang ingin mendirikan LSM (terutama pemuda dan mahasiswa), baik bersifat lokal (masyarakat setempat) maupun umum (anti narkoba dll) perlu adanya pemikiran yang matang, organisir yang terlaksana dengan baik dan pertanggungjawaban kepada masyarakat itu sendiri.


BY GEMPAR MUDA INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar